Pada tahun 1911, GIBRAN pindah ke kota NEW YORK, GIBRAN bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yg sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.
Sebelum tahun 1912, "BROKEN WINGS" telah diterbitkan dalam bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yg merupakan seorang Uskup yg oportunis. Karya GIBRAN ini sering dianggap sebagai autobiografinya. Pengaruh "BROKEN WINGS" terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita2 Arab yg dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yg memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yg diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama "BROKEN WINGS" ini dipersembahkan untuk MARY HASKELL.
GIBRAN sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun2 berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di LEBANON, GIBRAN menjadi seorang pengamat dari kalangan non pemerintah bagi masyarakat SYRIA yg tinggal di Amerika. Ketika GIBRAN dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredu. PIERRE LOTI, seorang novelis PERANCIS, yg sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata kepada GIBRAN, kalau hal ini sangat mengenaskan. Disadari atau tidak, GIBRAN memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.
GIBRAN sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun2 berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di LEBANON, GIBRAN menjadi seorang pengamat dari kalangan non pemerintah bagi masyarakat SYRIA yg tinggal di Amerika. Ketika GIBRAN dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredu. PIERRE LOTI, seorang novelis PERANCIS, yg sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata kepada GIBRAN, kalau hal ini sangat mengenaskan. Disadari atau tidak, GIBRAN memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.